Habib Ali Al-Jufri: Jadilah Pemilik Hati yang Hadir (Makna-makna Shalat)

Wahai para murid, pelajar, pendidik, perhatikanlah!! Badwi ini, dia tidak dapat membaca dan tidak pula dapat menulis, akan tetapi dia adalah seorang pemilik hati yang senantiasa hadir bersama Allah SWT. Itulah sebabnya, luapan perasaannya membuatnya larut dalam kenikmatan memuji Allah SWT sehingga lisannya bergerak untuk mengucapkan pujian kepada-Nya, bahkan hingga sepenuh langit dan bumi, bahkan melebihi keduanya. Ia tenggelam dalam pujian kepada Allah SWT.

Beberapa waktu lalu, pengasuh berkata, “Salah seorang guru kami berkata, ‘Perhatikanlah shalat. Se­sungguhnya kesempatan dan saat-saat yang paling suci adalah saat-saat shalat. Di saat-saat kita bermunajat kepada-Nya dan di dalam Kitab-Nya (di saat mem­baca surah Al-Fatihah), Allah SWT meng­ajarkan kepada kita agar kita menghu­bungkan dan mengaitkan hati kita de­ngan orang-orang yang shalih, bahkan sampai di saat kita berada di hadirat-Nya. Ini adalah bagian dari inti dan ha­kikat tauhid kepada-Nya.

Mengapa kita mengucapkan ‘Ihdi­nash-shiraathal mustaqiim. Shirathal­ladziina an-`amta `alaihim (Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat), pada­hal Allah SWT Mahatahu jalan yang lu­rus itu dan Dia pun Maha tidak mem­bu­tuhkan penjelasan kita tentang jalan yang lurus itu, artinya sesungguhnya Allah SWT tidak membutuhkan penjelas­an kita, ‘Yaitu jalan orang-orang yang Eng­kau beri nikmat’, melainkan Dia me­nurunkan firman-Nya dalam bentuk iba­rat seperti ini untuk mengajarkan kepada kita bahwa jalan yang lurus (ash-shirath al-mustaqim) tidaklah dengan serta mer­ta kita berada di atasnya kecuali dengan menjalin hubungan dengan orang-orang yang diberi karunia oleh Allah SWT, ke­cuali dengan adanya hubungan dalam hati kita dengan makna cinta karena Allah SWT dan benci karena Allah SWT, dengan makna taat dan cinta kepada Allah SWT dan kepada orang-orang yang dicintai oleh Allah SWT.

Dengan ibarat Shiraathalladziina an-‘amta ‘alaihim… (yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat), Allah SWT meng­ajarkan kepada kita bahwa sampai­nya kita kepada derajat istiqamah dan penitian kita di atas jalan yang lurus (ash-shirath al-mustaqim) tidak lain adalah de­ngan cara kita memiliki hubungan de­ngan orang-orang yang istiqamah, orang-orang shalih.”

Ini adalah bagian yang teramat pen­ting yang harus senantiasa kita jadikan pegangan di zaman sekarang ini, karena sebagian kaum muslimin yang dangkal pikirannya dan menjadi pengikut hawa nafsunya teramat getol untuk menjauh­kan sejauh-jauh mungkin kaum muslimin dari para shalihin, bahkan para wali ter­masyhur sekalipun. Bagi mereka yang menjadi panutan hanyalah Nabi SAW dan Al-Qur’an. Sedangkan dekat, penuh hormat, dan memuliakan para shalihin dengan sepenuh hati, menurut mereka adalah pengkultusan yang membawa kepada jurang kesyirikan.

Padahal, justru keselamatan dan hakikat tauhid kepada Allah SWT akan kita gapai bila kita dekat dan berittiba‘ sepenuhnya kepada para ulama dan shalihin.

Kita tinggalkan pembahasan ini, un­tuk selanjutnya mari kita simak bersama penjelasan lanjutan pengasuh berikut ini, masih berkaitan dengan makna-makna shalat:
Setelah itu, engkau ruku‘. Dan ketika eng­kau mengucapkan “Allahu Akbar” saat ruku‘, pada saat itu hendaklah eng­kau merasakan bahwa engkau tengah mendekat kepada Allah SWT dengan merunduk penuh penghormatan kepa­da-Nya.

Al-Haqq, Allah SWT, tidaklah diliputi oleh langit dan tidak pula diliputi oleh bumi. Allah SWT Mahasuci dari segala keterkaitan dengan masa dan tempat. Allah SWT Maha senantiasa ada-Nya sebelum dan sesudah Dia menciptakan waktu dan tempat.
Lalu apa makna kita mendekat ke­pada-Nya dengan ruku‘ dan sujud?

Allah SWT berfirman, yang artinya, “Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya (orang yang melarang orang dari melakukan shalat), dan su­judlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).” — QS Al-`Alaq: 19. Yakni, yang dimaksudkan mendekat kepada-Nya adalah dengan cara tunduk dan patuh (khudhu`) kepada-Nya. Maknanya, semakin banyak tundukmu kepada-Nya dalam shalat, semakin banyak pula taqarub-mu (mendekatkan diri) kepada Allah SWT. Maknanya pula, engkau semakin banyak bertaqarub kepada Allah SWT di saat semakin banyak engkau tunduk dan patuh kepada-Nya.

Mengapa demikian? Bukankah Allah SWT tidak butuh ketundukan dan ke­patuhan kita dan ketundukan semua makh­luk seluruhnya, karena alam se­mesta semuanya tunduk kepada-Nya?
Jawabannya, dalam hadits qudsi Allah SWT berfirman, yang artinya, “Aku di sisi hamba-hamba yang hati mereka luluh karena-Ku.”

Mengapa demikian? Karena sesung­guhnya Allah SWT Maha mengetahui bahwa engkau lebih banyak lagi mende­kat kepada-Nya dari kesejatianmu (al-haqiqah). Allah SWT memiliki asma Al-Haqq, maka, setiap kali engkau mende­kat, bertaqarub kepada Yang Al-Haqq, sesungguhnya engkau tengah men­de­kat kepada-Nya dengan kesejatianmu (al-haqiqah). Maknanya, ketundukan dan kepatuhan (al-khudhu) adalah ben­tuk taqarub, dengan kesejatianmu (haqi­qatuk) yang Allah telah menciptakanmu di atasnya. Yakni bahwa, pada hakikat­mu, engkau adalah hamba, makhluk, yang teramat lemah, teramat tak ber­daya, teramat faqir, dan teramat hina dina. Kemuliaanmu dan kedudukanmu, kesemuanya semata-mata karena ka­runia dari Allah SWT yang diberikan ke­padamu.

Itulah sebabnya, setiap kali engkau bertambah tunduk dan patuh kepada-Nya, semakin bertambah engkau me­rasa­kan, menyadari, dan menunjukkan kesejatianmu sebagai makhluk yang teramat hina dan faqir di hadapan Allah SWT. Dan setiap kali engkau bertambah bertaqarub kepada-Nya dengan sepe­nuh kesejatianmu di hadapan-Nya, se­tiap kali itu pula bertambah taqarubmu ke­pada Allah SWT. Engkau semakin de­kat kepada-Nya.

Untuk itulah, di saat engkau ruku‘, se­bagai bentuk isyarat merendahkan diri di hadapan-Nya, engkau mengucapkan Subhaana rabbiyal ‘azhiimi wa bihamdih (Mahasuci Tuhanku, Yang Mahaagung dengan segala pujian bagi-Nya). Engkau merasakan keagungan-Nya agar eng­kau merasakan betapa rendah dan hina­nya dirimu di saat engkau ruku‘ meren­dahkan diri di hadapan-Nya.

Kemudian di saat engkau atau imam mengucapkan Sami‘allaahu liman hami­dah (Allah Maha mendengarkan siapa pun dari hamba-hamba-Nya yang me­mu­ja-muji-Nya),” sesungguhnya Allah SWT Maha mendengar siapa yang me­muji-Nya dan siapa yang tidak memuji-Nya. Akan tetapi, mendengarnya Allah SWT terhadap siapa yang memuji-Nya dari hamba-hamba-Nya adalah pende­ngaran dan perhatian dalam bentuk khu­sus dan istimewa dari-Nya. Yakni, pen­dengaran berupa penerimaan, pende­katan, pembe­rian, dan pemulian dari Allah SWT kepada siapa pun dari hamba-hamba-Nya yang memuji Diri-Nya.

Setelah mengucapkan Sami‘allaahu liman hamidah, bukankah engkau meng­ucapkan Rabbanaa lakal hamdu ham­dan katsiran thayyiban mubarakan fiihi mil-assamaawaati wa mil-al ardhi wa mil-amaa syi’ta min syai-in ba‘du (Wahai Tuhan kami, bagi-Mu dan hanya milik-Mu  segala puji dengan pujian yang ba­nyak, yang baik, penuh berkah di da­lam­nya, sepenuh langit, sepenuh bumi, dan sepenuh segala sesuatu yang Engkau kehendaki setelah itu semua)? Tahukah engkau, siapa yang mengajarkan kita doa ini?

Para sahabat pada awalnya hanya mengucapkan Rabbanaa lakal-hamdu (Wahai Tuhan kami, bagi-Mu dan hanya milik-Mu segala puji). Ini yang mereka dapatkan dari Rasulullah SAW.
Suatu ketika, saat para sahabat tengah shalat di belakang Rasulullah SAW, ketika itu ada seorang Arab badwi yang juga ikut serta shalat bersama-sama mereka di belakang Nabi SAW.

Subhanallah, seorang badwi, de­ngan kebersihan dan kebeningan fith­rah­nya, benar-benar dapat merasakan agungnya ungkapan kalimat-kalimat itu. Ia memahami agungnya makna-makna dalam kalimat-kalimat itu. Di saat men­dengar Nabi SAW mengucapkan Rab­banaa lakal-hamdu (Wahai Tuhan kami, bagi-Mu dan hanya milik-Mu segala puji), si badwi merasakan dan meyakini de­ngan sepenuh hati betapa Allah SWT men­dengar setiap hamba yang memuji-Nya. Dengan perasaan yang hadir se­perti ini, hati si badwi diselimuti kelezatan nikmat memuji Allah SWT. Hatinya hadir dan berkata-kata, “Allah mendengar­ku…Allah mendengarku…”, maka tiba-tiba ia pun berucap Rabbanaa lakal ham­du hamdan katsiran thayyiban muba­rakan fiihi mil-assamaawaati wa mil-al ardhi wa mil-amaa syi’ta min syai-in ba`du (Wahai Tuhan kami, bagi-Mu dan hanya milik-Mu segala puji dengan puji­an yang banyak, yang baik, penuh ber­kah di dalamnya, sepenuh langit, sepe­nuh bumi, dan sepenuh segala sesuatu yang Engkau kehendaki setelah itu semua).

Si badwi larut dalam kegembiraan memuji Allah SWT dengan sebab luapan perasaan yang meliputi hatinya setelah mendengar Nabi SAW mengucapkan Sami‘allaahu liman hamidah.
“Allah SWT mendengar pujianku.”
Apakah engkau mendengar kalimat agung ini seperti halnya si badwi men­dengarnya, yang tidak dapat membaca dan tidak pula dapat menulis itu?

Wahai para murid, pelajar, pendidik, perhatikanlah! Badwi ini, dia tidak dapat membaca dan tidak pula dapat menulis, akan tetapi dia adalah seorang pemilik hati yang senantiasa hadir bersama Allah SWT. Itulah sebabnya, luapan perasaannya membuatnya larut dalam kenikmatan memuji Allah SWT sehingga lisannya bergerak untuk mengucapkan pujian kepada-Nya, bahkan hingga se­penuh langit dan bumi, bahkan melebihi keduanya. Ia tenggelam dalam pujian kepada Allah SWT.

Setelah salam, tiba-tiba wajah Ra­sulullah SAW terarah sepenuhnya ke­pada para sahabat yang berada di bela­kang beliau. Coba bayangkan bagai­mana gerangan pandangan para saha­bat ketika melihat wajah Rasulullah SAW menuju ke arah mereka. Wajah yang baru saja berhadapan dengan Allah SWT dengan seujung-ujung bentuk peng­hadapan seorang hamba kepada Tuhannya. Seorang yang paling agung kedudukannya di saat berhadapan dan berdekatan dengan Sang Pencipta alam semesta menatapkan wajahnya yang penuh cahaya ke arah mereka.

Beliau SAW kemudian berkata, “Siapa yang mengucapkan kalimat itu tadi?”
Si badwi itu pun terdiam. Ia diliputi perasaan malu dan takut bila saja apa yang diucapkannya itu menyalahi apa yang diajarkan Nabi SAW atau beliau merasa terganggu dengan ucapannya.
Tak ada sahabat yang menjawab, Nabi SAW pun mengulangi ucapannya, “Siapa yang mengucapkan kalimat itu tadi? Sungguh aku melihat tak kurang dari tiga puluh malaikat berebut untuk me­nu­lis­kannya di dalam catatan-catatan ke­ba­jikan orang yang mengucapkannya tadi.”

Mendengar ucapan Nabi SAW itu dan setelah yakin bahwa ucapannya di­ridhai, si badwi pun berkata, “Aku, wahai Rasulullah.”
Ini adalah pelajaran untuk kita se­mua, bagaimana Rasulullah SAW meng­ajarkan syari’at kepada kita. Perilaku Nabi SAW tersebut adalah sunnah taq­ririyyah, yakni sunnah yang berdasarkan taqrir atau pengakuan dan penetapan dari Nabi SAW. Sunnah qawliyyah ada­lah sunnah yang berdasarkan ucapan Nabi SAW, sunnah fi‘liyyah adalah sun­nah yang berdasarkan perbuatan Nabi SAW, dan sunnah taqririyyah adalah sunnah yang berdasarkan pengakuan dan penetapan Nabi SAW.

Sahabat melakukan suatu perbuat­an, kemudian Nabi SAW mengakuinya dan tidak mengingkarinya, maka per­buat­an itu menjadi sunnah yang harus diikuti oleh kita selaku umat beliau SAW. Di samping itu, pengakuan Nabi SAW terhadap perbuatan sahabat badwi itu juga merupakan isyarat bagaimana be­liau SAW mengajarkan kepada kita ba­gaimana semestinya kita belajar kepada siapa pun yang ada di sekitar kita.
Setelah peristiwa itu, Rasulullah SAW senantiasa mengucapkannya dalam shalat beliau SAW.
Sumber : http://www.majalah-alkisah.com/index.php/zawiyah/65-madrasah-hadramaut/3585-habib-ali-al-jufri-jadilah-pemilik-hati-yang-hadir-makna-makna-shalat

Posting Komentar