Wahai para murid, pelajar, pendidik, perhatikanlah!! Badwi ini, dia tidak dapat membaca dan tidak pula dapat menulis, akan tetapi dia adalah seorang pemilik hati yang senantiasa hadir bersama Allah SWT. Itulah sebabnya, luapan perasaannya membuatnya larut dalam kenikmatan memuji Allah SWT sehingga lisannya bergerak untuk mengucapkan pujian kepada-Nya, bahkan hingga sepenuh langit dan bumi, bahkan melebihi keduanya. Ia tenggelam dalam pujian kepada Allah SWT.
Beberapa waktu lalu, pengasuh berkata,
“Salah seorang guru kami berkata, ‘Perhatikanlah shalat. Sesungguhnya
kesempatan dan saat-saat yang paling suci adalah saat-saat shalat. Di
saat-saat kita bermunajat kepada-Nya dan di dalam Kitab-Nya (di saat
membaca surah Al-Fatihah), Allah SWT mengajarkan kepada kita agar kita
menghubungkan dan mengaitkan hati kita dengan orang-orang yang
shalih, bahkan sampai di saat kita berada di hadirat-Nya. Ini adalah
bagian dari inti dan hakikat tauhid kepada-Nya.
Mengapa kita mengucapkan
‘Ihdinash-shiraathal mustaqiim. Shirathalladziina an-`amta `alaihim
(Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau
beri nikmat), padahal Allah SWT Mahatahu jalan yang lurus itu dan Dia
pun Maha tidak membutuhkan penjelasan kita tentang jalan yang lurus
itu, artinya sesungguhnya Allah SWT tidak membutuhkan penjelasan kita,
‘Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat’, melainkan Dia
menurunkan firman-Nya dalam bentuk ibarat seperti ini untuk
mengajarkan kepada kita bahwa jalan yang lurus (ash-shirath al-mustaqim)
tidaklah dengan serta merta kita berada di atasnya kecuali dengan
menjalin hubungan dengan orang-orang yang diberi karunia oleh Allah SWT,
kecuali dengan adanya hubungan dalam hati kita dengan makna cinta
karena Allah SWT dan benci karena Allah SWT, dengan makna taat dan cinta
kepada Allah SWT dan kepada orang-orang yang dicintai oleh Allah SWT.
Dengan ibarat Shiraathalladziina
an-‘amta ‘alaihim… (yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat),
Allah SWT mengajarkan kepada kita bahwa sampainya kita kepada derajat
istiqamah dan penitian kita di atas jalan yang lurus (ash-shirath
al-mustaqim) tidak lain adalah dengan cara kita memiliki hubungan
dengan orang-orang yang istiqamah, orang-orang shalih.”
Ini adalah bagian yang teramat penting
yang harus senantiasa kita jadikan pegangan di zaman sekarang ini,
karena sebagian kaum muslimin yang dangkal pikirannya dan menjadi
pengikut hawa nafsunya teramat getol untuk menjauhkan sejauh-jauh
mungkin kaum muslimin dari para shalihin, bahkan para wali termasyhur
sekalipun. Bagi mereka yang menjadi panutan hanyalah Nabi SAW dan
Al-Qur’an. Sedangkan dekat, penuh hormat, dan memuliakan para shalihin
dengan sepenuh hati, menurut mereka adalah pengkultusan yang membawa
kepada jurang kesyirikan.
Padahal, justru keselamatan dan hakikat
tauhid kepada Allah SWT akan kita gapai bila kita dekat dan berittiba‘
sepenuhnya kepada para ulama dan shalihin.
Kita tinggalkan pembahasan ini, untuk
selanjutnya mari kita simak bersama penjelasan lanjutan pengasuh berikut
ini, masih berkaitan dengan makna-makna shalat:
Setelah itu, engkau ruku‘. Dan ketika
engkau mengucapkan “Allahu Akbar” saat ruku‘, pada saat itu hendaklah
engkau merasakan bahwa engkau tengah mendekat kepada Allah SWT dengan
merunduk penuh penghormatan kepada-Nya.
Al-Haqq, Allah SWT, tidaklah diliputi
oleh langit dan tidak pula diliputi oleh bumi. Allah SWT Mahasuci dari
segala keterkaitan dengan masa dan tempat. Allah SWT Maha senantiasa
ada-Nya sebelum dan sesudah Dia menciptakan waktu dan tempat.
Lalu apa makna kita mendekat kepada-Nya dengan ruku‘ dan sujud?
Allah SWT berfirman, yang artinya,
“Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya (orang yang melarang
orang dari melakukan shalat), dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu
kepada Tuhan).” — QS Al-`Alaq: 19. Yakni, yang dimaksudkan mendekat
kepada-Nya adalah dengan cara tunduk dan patuh (khudhu`) kepada-Nya.
Maknanya, semakin banyak tundukmu kepada-Nya dalam shalat, semakin
banyak pula taqarub-mu (mendekatkan diri) kepada Allah SWT. Maknanya
pula, engkau semakin banyak bertaqarub kepada Allah SWT di saat semakin
banyak engkau tunduk dan patuh kepada-Nya.
Mengapa demikian? Bukankah Allah SWT
tidak butuh ketundukan dan kepatuhan kita dan ketundukan semua makhluk
seluruhnya, karena alam semesta semuanya tunduk kepada-Nya?
Jawabannya, dalam hadits qudsi Allah SWT berfirman, yang artinya, “Aku di sisi hamba-hamba yang hati mereka luluh karena-Ku.”
Mengapa demikian? Karena sesungguhnya
Allah SWT Maha mengetahui bahwa engkau lebih banyak lagi mendekat
kepada-Nya dari kesejatianmu (al-haqiqah). Allah SWT memiliki asma
Al-Haqq, maka, setiap kali engkau mendekat, bertaqarub kepada Yang
Al-Haqq, sesungguhnya engkau tengah mendekat kepada-Nya dengan
kesejatianmu (al-haqiqah). Maknanya, ketundukan dan kepatuhan
(al-khudhu) adalah bentuk taqarub, dengan kesejatianmu (haqiqatuk)
yang Allah telah menciptakanmu di atasnya. Yakni bahwa, pada hakikatmu,
engkau adalah hamba, makhluk, yang teramat lemah, teramat tak berdaya,
teramat faqir, dan teramat hina dina. Kemuliaanmu dan kedudukanmu,
kesemuanya semata-mata karena karunia dari Allah SWT yang diberikan
kepadamu.
Itulah sebabnya, setiap kali engkau
bertambah tunduk dan patuh kepada-Nya, semakin bertambah engkau
merasakan, menyadari, dan menunjukkan kesejatianmu sebagai makhluk
yang teramat hina dan faqir di hadapan Allah SWT. Dan setiap kali engkau
bertambah bertaqarub kepada-Nya dengan sepenuh kesejatianmu di
hadapan-Nya, setiap kali itu pula bertambah taqarubmu kepada Allah
SWT. Engkau semakin dekat kepada-Nya.
Untuk itulah, di saat engkau ruku‘,
sebagai bentuk isyarat merendahkan diri di hadapan-Nya, engkau
mengucapkan Subhaana rabbiyal ‘azhiimi wa bihamdih (Mahasuci Tuhanku,
Yang Mahaagung dengan segala pujian bagi-Nya). Engkau merasakan
keagungan-Nya agar engkau merasakan betapa rendah dan hinanya dirimu
di saat engkau ruku‘ merendahkan diri di hadapan-Nya.
Kemudian di saat engkau atau imam
mengucapkan Sami‘allaahu liman hamidah (Allah Maha mendengarkan siapa
pun dari hamba-hamba-Nya yang memuja-muji-Nya),” sesungguhnya Allah
SWT Maha mendengar siapa yang memuji-Nya dan siapa yang tidak
memuji-Nya. Akan tetapi, mendengarnya Allah SWT terhadap siapa yang
memuji-Nya dari hamba-hamba-Nya adalah pendengaran dan perhatian dalam
bentuk khusus dan istimewa dari-Nya. Yakni, pendengaran berupa
penerimaan, pendekatan, pemberian, dan pemulian dari Allah SWT kepada
siapa pun dari hamba-hamba-Nya yang memuji Diri-Nya.
Setelah mengucapkan Sami‘allaahu liman
hamidah, bukankah engkau mengucapkan Rabbanaa lakal hamdu hamdan
katsiran thayyiban mubarakan fiihi mil-assamaawaati wa mil-al ardhi wa
mil-amaa syi’ta min syai-in ba‘du (Wahai Tuhan kami, bagi-Mu dan hanya
milik-Mu segala puji dengan pujian yang banyak, yang baik, penuh
berkah di dalamnya, sepenuh langit, sepenuh bumi, dan sepenuh segala
sesuatu yang Engkau kehendaki setelah itu semua)? Tahukah engkau, siapa
yang mengajarkan kita doa ini?
Para sahabat pada awalnya hanya
mengucapkan Rabbanaa lakal-hamdu (Wahai Tuhan kami, bagi-Mu dan hanya
milik-Mu segala puji). Ini yang mereka dapatkan dari Rasulullah SAW.
Suatu ketika, saat para sahabat tengah
shalat di belakang Rasulullah SAW, ketika itu ada seorang Arab badwi
yang juga ikut serta shalat bersama-sama mereka di belakang Nabi SAW.
Subhanallah, seorang badwi, dengan
kebersihan dan kebeningan fithrahnya, benar-benar dapat merasakan
agungnya ungkapan kalimat-kalimat itu. Ia memahami agungnya makna-makna
dalam kalimat-kalimat itu. Di saat mendengar Nabi SAW mengucapkan
Rabbanaa lakal-hamdu (Wahai Tuhan kami, bagi-Mu dan hanya milik-Mu
segala puji), si badwi merasakan dan meyakini dengan sepenuh hati
betapa Allah SWT mendengar setiap hamba yang memuji-Nya. Dengan
perasaan yang hadir seperti ini, hati si badwi diselimuti kelezatan
nikmat memuji Allah SWT. Hatinya hadir dan berkata-kata, “Allah
mendengarku…Allah mendengarku…”, maka tiba-tiba ia pun berucap Rabbanaa
lakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiihi
mil-assamaawaati wa mil-al ardhi wa mil-amaa syi’ta min syai-in ba`du
(Wahai Tuhan kami, bagi-Mu dan hanya milik-Mu segala puji dengan pujian
yang banyak, yang baik, penuh berkah di dalamnya, sepenuh langit,
sepenuh bumi, dan sepenuh segala sesuatu yang Engkau kehendaki setelah
itu semua).
Si badwi larut dalam kegembiraan memuji
Allah SWT dengan sebab luapan perasaan yang meliputi hatinya setelah
mendengar Nabi SAW mengucapkan Sami‘allaahu liman hamidah.
“Allah SWT mendengar pujianku.”
Apakah engkau mendengar kalimat agung
ini seperti halnya si badwi mendengarnya, yang tidak dapat membaca dan
tidak pula dapat menulis itu?
Wahai para murid, pelajar, pendidik,
perhatikanlah! Badwi ini, dia tidak dapat membaca dan tidak pula dapat
menulis, akan tetapi dia adalah seorang pemilik hati yang senantiasa
hadir bersama Allah SWT. Itulah sebabnya, luapan perasaannya membuatnya
larut dalam kenikmatan memuji Allah SWT sehingga lisannya bergerak untuk
mengucapkan pujian kepada-Nya, bahkan hingga sepenuh langit dan bumi,
bahkan melebihi keduanya. Ia tenggelam dalam pujian kepada Allah SWT.
Setelah salam, tiba-tiba wajah
Rasulullah SAW terarah sepenuhnya kepada para sahabat yang berada di
belakang beliau. Coba bayangkan bagaimana gerangan pandangan para
sahabat ketika melihat wajah Rasulullah SAW menuju ke arah mereka.
Wajah yang baru saja berhadapan dengan Allah SWT dengan seujung-ujung
bentuk penghadapan seorang hamba kepada Tuhannya. Seorang yang paling
agung kedudukannya di saat berhadapan dan berdekatan dengan Sang
Pencipta alam semesta menatapkan wajahnya yang penuh cahaya ke arah
mereka.
Beliau SAW kemudian berkata, “Siapa yang mengucapkan kalimat itu tadi?”
Si badwi itu pun terdiam. Ia diliputi
perasaan malu dan takut bila saja apa yang diucapkannya itu menyalahi
apa yang diajarkan Nabi SAW atau beliau merasa terganggu dengan
ucapannya.
Tak ada sahabat yang menjawab, Nabi SAW
pun mengulangi ucapannya, “Siapa yang mengucapkan kalimat itu tadi?
Sungguh aku melihat tak kurang dari tiga puluh malaikat berebut untuk
menuliskannya di dalam catatan-catatan kebajikan orang yang
mengucapkannya tadi.”
Mendengar ucapan Nabi SAW itu dan setelah yakin bahwa ucapannya diridhai, si badwi pun berkata, “Aku, wahai Rasulullah.”
Ini adalah pelajaran untuk kita semua,
bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan syari’at kepada kita. Perilaku
Nabi SAW tersebut adalah sunnah taqririyyah, yakni sunnah yang
berdasarkan taqrir atau pengakuan dan penetapan dari Nabi SAW. Sunnah
qawliyyah adalah sunnah yang berdasarkan ucapan Nabi SAW, sunnah
fi‘liyyah adalah sunnah yang berdasarkan perbuatan Nabi SAW, dan sunnah
taqririyyah adalah sunnah yang berdasarkan pengakuan dan penetapan Nabi
SAW.
Sahabat melakukan suatu perbuatan,
kemudian Nabi SAW mengakuinya dan tidak mengingkarinya, maka perbuatan
itu menjadi sunnah yang harus diikuti oleh kita selaku umat beliau SAW.
Di samping itu, pengakuan Nabi SAW terhadap perbuatan sahabat badwi itu
juga merupakan isyarat bagaimana beliau SAW mengajarkan kepada kita
bagaimana semestinya kita belajar kepada siapa pun yang ada di sekitar
kita.
Setelah peristiwa itu, Rasulullah SAW senantiasa mengucapkannya dalam shalat beliau SAW.
Sumber :
http://www.majalah-alkisah.com/index.php/zawiyah/65-madrasah-hadramaut/3585-habib-ali-al-jufri-jadilah-pemilik-hati-yang-hadir-makna-makna-shalat


Posting Komentar