Apa Itu Barokah dan Bagaimana Mendapatkannya

Mauidzoh Hasanah Al-Walid Habibanaa Al-Mahbub Al-Habib Ali bin Sayyidil Walid Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad bin Abdul Qodir Assegaf
[ MT Al Afaf Jakarta ]
.
Al-Walid Habibanaa Al-Mahbub Al-Habib Ali bin Sayyidil Walid Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad bin Abdul Qodir Assegaf


Saudara bilang mau dapatkan barokah?
Apa itu yg disebut berkah?
Orang banyak mau dapat berkah...
Kata Habib Sholeh Tanggul Jember waktu jumpa dengan saya, saya waktu (berkisar umur 30 tahun), kejadian ini sudah 40 tahun lalu...
.
Beliau bilang ; Ali anta mau berkah?
Apa yg disebut berkah, beliau sendiri yg mengucapkan;
yg namanya berkah itu
"Duit di kantong belum habis sudah datang lagi."
.
Kiat apa yg bakal membawa kita duit di kantong belum habis sudah datang lagi?
.
Seorang yg beberapa kali datang ke Kwitang Al-Marhum Prof DR al Muhaddits al-Musnid al-Habib Muhammad bin Alwi bin Abas al-Maliki, karena memang saya yang terjemahkan ceramahnya, menceritakan al-Habib Muhammad bin Alwi bin Abbas al-Maliki dalam kitabnya Madzhabi Sya'ban;
Bahwa Rasulullah Saw pernah kedatangan seseorang, dan mengatakan tentang dirinya dan keluarga bahwa dia mengalami kemiskinan yg luar biasa, apa resep yg Nabi Saw berikan?
Kata Nabi Saw kalau kau pulang nanti jangan lupa beri salam ucapkan :

Assalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh
Assalaamu'alaika Ayyuhan Nabiyyu wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh
Assalaamu'alainaa wa 'Alaa 'Ibaadillaahis Shaalihiin•
Lalu Baca Surat al Ikhlas 3x
.
Ini orang dari sejak di ajarkan oleh Nabi Saw, baca Salam dan Qulhu, dia tidak pernah tinggalkan yg baginda Nabi ajarkan...
Apa kemudian yg terjadi pada diri ini orang?
Lihat kalau ajaran Nabi Saw di amalkan dengan penuh keyakinan Nabi Saw sendiri yg jadi saksi hidup, beliau sendiri yg katakan dalam haditsnya;
"Orang ini kemudian kebanjiran rezeqi, kebanjiran berkah sampai berkah itu melintasi/mampir kerumah tetangga-tetangganya dan sanak keluarganya...
.
Kita sudah kebanjiran berkah apa belum?
Laksanakan...Kita buktikan Sabda Rasulullah, Jangan tidak yakin kalau Rasulullah Saw ajarkan kita,
Kita yakini... kita amalkan... kita akan diberkahi oleh ALLOH SWT...
.
Kalau orang membaca Qulhuwa Allaahu Ahad satu kali yg dapat berkah itu hanya dirinya, kalau membacanya 2x.. orang yg satu rumah dengan kita dapat berkah, (mertua kita tinggal dengan kita, ipar kita tinggal sama kita, mantu kita tinggal sama kita, cucu² kita tinggal sama kita ), semuanya itu bakal dapat berkah, kita mau berkah sendirian apa seluruh angota keluarga kita dapat berkah? Tentu Semuanya...
.
Siapa yg membaca 3x begitu dapatnya { dirinya, keluarganya, dan jirannya dapet berkah }
Siapa yg membaca Qulhuwallaahu Ahad disaat dia masuk kerumahnya maka tetangga²nya akan diberkahi oleh ALLAH SWT,
Apa enak lihat tetangga kita dalam keadan tidak berkah?
Dalam keadan miskin kita sendiri senang kita sendiri penuh dengan berkah, tentu kita senang lihat tetangga pun penuh berkah...
__________________________________________________

Dikutip dari ceramah pada acara maulid, Al Walid Al Habib Ali bin Sayyidil Walid Al Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf.

Syarat-syarat Bathin Amaliah Hati

Di antara syarat-syarat tersebut adalah khusyu‘. Allah SWT berfirman yang artinya, “Laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS Tha-Ha: 14). Di samping itu Nabi SAW juga bersabda, “Berapa banyak orang yang mendirikan shalat namun bagian yang diperolehnya dari shalat hanyalah rasa letih dan kepayahan.”
 
Dalam shalat, gerakan-gerakan maupun ucapan-ucapan yang dilakukan, baik yang fardhu maupun yang sunnah, dapat kita lihat dan kita dengar. Meskipun demikian, sha­lat se­sungguhnya bukan hanya ama­liah ang­gota-anggota tubuh yang tam­pak, melainkan juga melibatkan amaliah hati. Bahkan, amaliah hati ini sangat menentukan kualitas shalat yang kita lakukan. Karena itu, masalah tersebut ha­rus pula kita pahami dengan baik. Berikut ini penjelasan pengarang tentang persoalan yang penting ini yang mungkin jarang kita perhatikan.

Pengarang mengatakan:

Di antara syarat-syarat tersebut adalah khusyu‘. Allah SWT berfirman yang artinya, “Laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS Tha-Ha: 14). Di samping itu Nabi SAW juga bersabda, “Berapa banyak orang yang mendirikan shalat namun bagian yang diperolehnya dari shalat hanyalah rasa letih dan kepayahan.”

Penjelasan Pengasuh

Khusyu‘ itu berdekatan dengan khudhu‘, hanya saja khudhu‘ itu pada badan dan merupakan pengakuan ke­rendahan, yakni di hadapan Allah. Se­dangkan khusyu‘ itu pada badan, suara, dan pandangan. Di dalam hadits dari Qatadah dikatakan, ”Khusyu‘ itu di dalam hati dan menetapi pandangan dalam shalat.” Artinya, menetapinya (memfo­kus­kannya) ke tempat sujud.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya shalat itu adalah semata-mata dzikir, bacaan Al-Qur’an, munajat, dan dialog, dan hal tersebut tidak dapat terwujud kecuali dengan hadirnya hati. Sementara itu, kesempurnaan khusyu’ dapat diper­oleh dengan jalan memahami, meng­agungkan, menghadirkan rasa takut, pengharapan, dan rasa malu. Kesim­pul­annya, setiap kali bertambah ilmu se­seorang tentang Allah SWT, bertambah pula rasa takutnya dan didapatlah ke­hadiran hati.

Penjelasan Pengasuh

Yang dimaksud dengan kehadiran hati adalah mengosongkan hati dari selain yang sedang dihadapi dan sedang diajak bicara, dan pikirannya tidak me­ngembara kepada selain perbuatan dan ucapan yang sedang dilakukan. Selama ia berpaling dari selain itu, hatinya tetap mengingat apa yang sedang dilakukan­nya, dan tidak ada kelalaian dari segala sesuatu, berarti kehadiran hati telah di­perolehnya.

Jika engkau mendengar adzan, se­patutnya hatimu menghadirkan (merasa­kan) dahsyatnya seruan di hari Kiamat, dan bersemangatlah dengan lahir dan bathinmu untuk memenuhi panggilan adzan itu dengan segera, karena orang-orang yang bersegera memenuhi pang­gil­an itulah yang dipanggil dengan penuh kelembutan di hari Kiamat.

Jika engkau dapati hatimu penuh ke­gembiraan dan suka cita dan sangat ingin untuk segera melaksanakan, akan demikian pula keadaan engkau kelak ketika dipanggil di hari Kiamat. Oleh karena itu, Nabi SAW bersabda, “Gem­birakanlah kami dengannya, wahai Bilal,” karena yang menggembirakan be­liau adalah ketika berada dalam shalat.

Al-Mursyid Al-Amin
Karya Al-Ghazali
Diasuh oleh: K.H. Saifuddin Amsir
Dikutip dari http://majalah-alkisah.com/

Syahadat Rasul

“Sesungguhnya bila se­orang hamba telah diletakkan di kubur­nya dan sahabat-sahabatnya telah me­ninggalkannya dan ia mendengar bunyi terompah-terompah mereka, ia didatangi oleh dua malaikat yang kemudian men­dudukkannya….”
 
Telah kita ketahui bersama, keimanan seseorang barulah dianggap sah apabila ia menyatakan dua kalimat syahadat, yakni bersaksi (mengakui) bahwa tiada Tuhan selain Allah dan ber­saksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Jadi, tidak sah bila hanya syahadat tauhid, melainkan harus di­sertai dengan syahadat rasul. Marilah kita si­mak uraian pengarang berikut ini yang menjelaskan makna syahadat yang ke­dua, yakni syahadat rasul, ter­masuk ke­wajiban mengimani apa-apa yang disam­paikan oleh beliau mengenai masalah-masalah ghaib setelah kemati­an.

Pengarang mengatakan:

Makna kalimat syahadat yang kedua, yaitu kesaksian bagi Rasulullah SAW: Bahwasanya Allah SWT telah mengutus rasul dan nabi yang tidak mengenal baca dan tulis, yang membawa hidayah, ber­asal dari suku Quraisy, Muhammad SAW, dengan membawa risalah-Nya kepada seluruh masyarakat Arab dan non-Arab, kepada jin dan manusia. De­ngan syari’at itu Allah SWT menghapus­kan syari’at-syari’at sebelumnya kecuali yang kemudian ditetapkan. Dan Dia mengutamakannya di atas para nabi lainnya dan menjadikannya sebagai pemimpin bagi semua manusia.

Allah SWT menolak kesempurnaan iman dengan syahadat tauhid (pernyata­an kalimat tauhid) yaitu kalimat La ilaha illallah selama tidak disertai dengan sya­hadat rasul (pernyataan kesaksian ter­hadap Rasulullah SAW) dan itu adalah pernyataanmu: Muhammad Rasulullah. Allah SWT juga mewajibkan manusia untuk membenarkan semua yang beliau sampaikan tentang dunia dan akhirat.

Allah SWT tidak menerima iman se­orang hamba hingga ia beriman terha­dap apa yang diberitakan Nabi SAW tentang kehidupan setelah kematian. Hal yang pertama adalah tentang pertanya­an Malaikat Munkar dan Nakir. Kedua­nya adalah sosok malaikat yang mena­kutkan dan berwibawa yang menduduk­kan manusia di kuburnya dalam keada­an mempunyai ruh dan jasad. Lalu me­reka menanyakan kepadanya ihwal tau­hid dan risalah kenabian. Kepadanya mereka bertanya, “Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Dan, siapa nabimu?” Kedua­nya menjadi fitnah (ujian) di kubur yang dahsyat dan pertanyaan mereka menjadi awal fitnah yang dihadapi manusia sete­lah kematiannya. Dan bahwasanya ia wajib mengimani siksa kubur, karena hal tersebut benar adanya. Di samping itu, hukum Allah SWT adil terhadap jasad dan ruh sesuai dengan kehendak-Nya.
 
Penjelasan Pengasuh

Hadits tentang pertanyaan Munkar dan Nakir diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban, yaitu hadits dari Abu Hurairah yang menyebut­kan, “Apabila mayit telah dikubur, ia dida­tangi oleh dua malaikat yang hitam, yang satunya dinamakan Munkar, dan yang lainnya Nakir.” Dan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadits dari Anas, “Sesungguhnya bila se­orang hamba telah diletakkan di kubur­nya dan sahabat-sahabatnya telah me­ninggalkannya dan ia mendengar bunyi terompah-terompah mereka, ia didatangi oleh dua malaikat yang kemudian men­dudukkannya….”

Selanjutnya, beriman akan hari Ke­bangkitan. Bahwasanya Allah SWT akan menghidupkan kembali tulang-belulang yang sudah hancur sebagaimana Dia men­ciptakannya pertama kali dan me­ngembalikan ruh ke dalam jasad seba­gaimana di dunia sebelum mengalami ke­matian dan menjadikannya sebagai sosok yang sempurna.

Setelah itu, beriman terhadap ada­nya timbangan amal yang memiliki dua piring­an neraca dan pengukur ketepat­an. Kedua piringan itu besarnya seluas langit dan bumi. Dengan kekuasaan Allah SWT di situ, amal perbuatan ma­nusia ditimbang, dan penimbangan itu sedemikian telitinya hingga seberat biji sawi pun pun dimasuk­kan untuk mewu­judkan kesempurnaan ke­adilan. Catat­an-catatan amal kebajikan diletakkan di piringan yang bercahaya se­hingga tim­bangannya menjadi berat se­suai dengan derajatnya di sisi Allah SWT dengan ber­kat kemurahan-Nya, sedang­kan catat­an-catatan amal keburukan di­letakkan di piringan yang gelap gulita se­hingga tim­bangannya menjadi ringan de­ngan ber­kat keadilan-Nya.

Kemudian, beriman bahwa hari Kia­mat adalah benar, dan bahwa titian sirath adalah benar, yaitu jembatan yang ter­bentang di atas perut neraka Jahanam, kondisinya lebih tajam daripada pedang dan lebih lembut daripada sehelai ram­but. Semua kaki orang-orang kafir akan tergelincir sehingga mereka dimasukkan ke neraka, sedangkan kaki orang-orang beriman kokoh di atasnya sehingga me­reka dibawa ke surga.
 
Penjelasan Pengasuh 

Hadits tentang sirath di antaranya diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, “Dan dipancangkan sirath di antara neraka Jahanam.” Juga dari riwayat Abu Sa`id yang menyebut­kan, “Kemudian dipancangkan jembatan di atas neraka Jahanam.”

Al-Mursyid Al-Amin
Karya Al-Ghazali
Diasuh oleh: K.H. Saifuddin Amsir
Dikutip dari http://majalah-alkisah.com/

Keutamaan dan Tata Cara Adzan

Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga golongan yang pada hari Kiamat kelak berada di atas bukit pasir terbuat dari kesturi yang semerbak baunya. Mereka tidak dipusingkan oleh perhitungan amal dan tidak tersentuh oleh kepanikan sam­pai selesai pengadilan terhadap semua manusia: orang yang membaca Al-Qur’an karena mengharap keridhaan AllahTa`ala, orang yang diberi cobaan kemiskinan di dunia tetapi hal tersebut tidak membuatnya sibuk sehingga me­lalaikan amal akhirat, dan orang yang mengumandangkan adzan untuk shalat.”
 
Di antara yang disunnahkan sebelum melakukan shalat fardhu adalah mengumandangkan adzan, ter­masuk saat melakukan shalat seorang diri.Dari riwayat-riwayat yang ada, kita mengetahui bahwa mudazin memiliki ke­dudukan yang mulia. Dalam kajian kali ini, kita akan mengikuti penjelasan peng­a­rang tentang adzan, baik keutama­an­nya maupun tata caranya, terutama saat kita mendengar adzan. Marilah kita per­hatikan keterangannya dengan sek­sama.

Pengarang mengatakan:

Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga golongan yang pada hari Kiamat kelak berada di atas bukit pasir terbuat dari kesturi yang semerbak baunya. Mereka tidak dipusingkan oleh perhitungan amal dan tidak tersentuh oleh kepanikan sam­pai selesai pengadilan terhadap semua manusia: orang yang membaca Al-Qur’an karena mengharap keridhaan AllahTa`ala, orang yang diberi cobaan kemiskinan di dunia tetapi hal tersebut tidak membuatnya sibuk sehingga me­lalaikan amal akhirat, dan orang yang mengumandangkan adzan untuk shalat.”

Nabi SAW juga bersabda, “Tangan Allah Yang Maha Pengasih (rahmat-Nya) berada di atas kepala muadzin sam­pai dia selesai dari menguman­dang­kan adzannya.” Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan firman Allah SWT yang artinya “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah” (QS Fushshilat: 33) adalah para muadzin.

Kemudian pengarang mengatakan:

Apabila Anda mendengar adzan, ucap­kanlah seperti yang diucapkan muadzin; kecuali pada dua lafal hayya ‘ala (yakni hayya ‘alash-shalâh dan hayya ‘alal-falâh), yang dijawab dengan ucapan lâ hawla walâ quwwata illâ billâhil-‘aliyyil-‘azhîm (tiada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah, Yang Mahatinggi dan Mahaagung).

Pada kalimat qad qâmatish-shalâh (shalat segera didirikan), jawablah de­ngan mengucapkan:
(Semoga Allah menegakkannya dan melestarikanya sepanjang lestarinya langit dan bumi).
Pada at-tatswib (ketika muadzin mengucapkan ash-shalâtu khayrum-minan-naum), jawablah dengan meng­ucap­kan:

(Engkau benar dan engkau tidak berdusta).

Dan ketika adzan selesai, bacalah doa:

(Ya Allah, pemilik seruan yang sem­purna ini dan shalat yang segera di­dirikan, berikanlah kepada Nabi Muham­mad kedudukan, keutamaan, derajat yang tinggi, dan tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan kepada beliau).

Al-Mursyid Al-Amin
Karya Al-Ghazali
Diasuh oleh: K.H. Saifuddin Amsir
AY
Dikutip dari http://majalah-alkisah.com/

Rahasia-rahasia Bersuci

Rasulullah SAW bersabda, “Wudhu adalah setengah iman.” Beliau juga ber­sabda, “Agama dibangun atas dasar ke­bersihan.” Beliau pun bersabda, “Kunci shalat adalah bersuci.” Dan Allah SWT ber­firman yang artinya, “Di dalamnya ada orang-orang yang ingin member­sih­kan diri.” (QS At-Tawbah: 108). 
 
Mulai sekarang, kajian kitab kuning kita memasuki pembahasan tentang masalah-masalah iba­dah, yang diawali dengan rahasia-raha­sia bersuci. Pengarang menjelaskan ting­katan-tingkatan bersuci, yang sangat penting kita ketahui dan pahami. Marilah kita ikuti keterangan pengarang dan pen­jelasannya tentang masalah rahasia bersuci.

Pengarang mengatakan:

Rasulullah SAW bersabda, “Wudhu adalah setengah iman.” Beliau juga ber­sabda, “Agama dibangun atas dasar ke­bersihan.” Beliau pun bersabda, “Kunci shalat adalah bersuci.” Dan Allah SWT ber­firman yang artinya, “Di dalamnya ada orang-orang yang ingin member­sih­kan diri.” (QS At-Tawbah: 108). 

Penjelasan Pengasuh

Orang-orang yang memiliki mata hati memahami dengan keterangan-kete­rangan yang nyata ini bahwa hal yang terpenting adalah menyucikan bathin, ka­rena tidak mungkin yang dimaksud de­ngan sabda Nabi SAW “Bersuci adalah setengah iman” adalah member­sihkan lahir dengan menuangkan air se­dangkan bathinnya ia biarkan dipenuhi kotoran-kotoran. Tidak mungkin, tidak mungkin demikian.

Kemudian pengarang menjelaskan tingkatan-tingkatan bersuci dengan mengatakan:

Bersuci itu memiliki empat tingkatan. Pertama, menyucikan lahiriah dari ha­dats. Kedua, menyucikan anggota-ang­gota tubuh dari kesalahan dan dosa. Ke­tiga, menyucikan hati dari akhlaq yang tercela. Keempat, menyucikan sir dari se­lain Allah, dan ini merupakan bersuci­nya para nabi dan para shiddiqin.

Bersuci dalam setiap tingkatan me­rupakan setengah amal yang terdapat di dalamnya, karena dalam setiap ting­katan terdapat takhliyah (mengosong­kan) dan tahliyah (menghiasi). Mengo­song­kan (dari sesuatu) merupakan se­tengah amal, karena yang lainnya (yang setengahnya lagi) tergantung kepada­nya. Itu ditunjuk­kan dalam firman Allah yang artinya, “... Katakanlah, ‘Allah-lah (yang menurun­kannya)’, kemudian (se­sudah engkau me­­nyampaikan Al-Qur’an kepada me­reka) biarkanlah mereka...” (QS Al-An`am: 91). Firman Allah yang arti­nya “Kemudian biarkanlah mereka”  adalah mengosongkan (hati) dari selain Allah. 

Demikian juga dengan hati. Ia harus di­kosongkan dari akhlaq yang tercela, kemudian dihiasi dengan akhlaq yang ter­puji. Anggota-anggota tubuh pun ha­rus dikosongkan dari dosa-dosa dan ke­mudian dihiasi dengan ketaatan. Ma­sing-masing dari tingkatan ini merupa­kan syarat untuk menyelami tingkatan yang sesudahnya. Jadi, pertama-tama menyucikan lahiriah, kemudian menyuci­kan anggota tubuh, lalu menyucikan hati, dan setelah itu menyucikan sir. 

Maka tidak semestinya engkau men­duga bahwa yang dimaksud dengan ber­suci itu adalah menyucikan lahiriah saja (Jika demikian) engkau akan luput dari yang dimaksud. Dan jangan engkau men­duga pula bahwa tingkatan-tingkat­an ini dapat dicapai dengan angan-angan dan diperoleh dengan mudah. Karena sesungguhnya, jika engkau gu­nakan seluruh umurmu untuk itu, mung­kin engkau hanya akan mendapatkan sebagian dari maksud-maksud itu.

Penjelasan Pengasuh 

Setiap kali yang dituntut itu sesuatu yang langka dan mulia, perjalanannya menjadi lebih sulit dan lebih lama, dan kendalanya lebih banyak. Maka jangan­lah Anda menduga bahwa hal ini dapat dicapai dengan angan-angan dan dapat diperoleh dengan mudah.

Ya, orang yang buta mata hatinya dari tingkatan-tingkatan ini hanya me­mahami tingkatan yang terakhir yang dia itu seperti kulit terluar yang tampak di­bandingkan isinya yang dicari. Maka ia hanya me­nyibukkan diri dan menghabis­kan semua waktunya untuk istinja, mem­basuh pakai­an, membersihkan bagian luar tubuhnya, dan mencari air yang ba­nyak karena me­nyangka bahwa bersuci yang dituntut dan mulia itu hanyalah ini. Ia tidak mengetahui tingkatan-tingkatan yang sebelumnya dan tidak mengguna­kan waktunya untuk menyucikan hatinya.

Al-Mursyid Al-Amin
Karya Al-Ghazali
Diasuh oleh: K.H. Saifuddin Amsir
AY

Telaga Nabi dan Perhitungan Amal

Beriman terhadap adanya telaga Nabi Muhammad SAW, yang orang-orang beriman akan minum dari air telaga itu sebelum memasuki surga dan setelah melewati titian (shirath). Orang yang minum dari air telaga itu satu kali saja tidak akan merasakan dahaga selamanya
 
Kajian kita masih berbicara tentang aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Kali ini pengarang men­jelaskan ihwal Telaga Al-Kautsar, telaga Nabi SAW di akhirat kelak. Ini salah satu keistimewaan beliau di akhirat kelak. Jadi, bukan hanya di dunia beliau memi­liki berbagai keistimewaan dan kelebih­an dibandingkan dengan para rasul yang lain, melainkan juga di akhirat.

Selanjutnya pengarang menjelaskan perihal perhitungan amal di akhirat nanti, salah satu aqidah yang wajib kita imani. Bagaimana nasib orang-orang mukmin yang amal keburukannya lebih banyak di­bandingkan amal kebaikannya? Jika dosa-dosa mereka sangat banyak dan tak ada sama sekali kebaikannya, hanya memiliki iman, apakah mereka akan kekal di neraka? Kita akan menyimak penjelas­an pengarang tentang hal itu dan perkara lain yang berkaitan. Setelah itu penga­rang menjelaskan masalah keyakinan kita kepada para sahabat Nabi SAW. Mari kita perhatikan dengan seksama.

Pengarang mengatakan:

Selain itu, beriman terhadap adanya telaga Nabi Muhammad SAW, yang orang-orang beriman akan minum dari air telaga itu sebelum memasuki surga dan setelah melewati titian (shirath). Orang yang minum dari air telaga itu satu kali saja tidak akan merasakan dahaga selamanya. Luasnya sejauh jarak per­jalanan satu bulan, warna airnya lebih pu­tih daripada susu, dan rasanya lebih ma­nis daripada madu. Di sekelilingnya ada gelas-gelas yang jumlahnya seba­nyak bilangan bintang di langit, di sana terdapat pancuran air yang mengalir dari Telaga Al-Kautsar.

Lalu beriman terhadap perhitungan amal dan perbedaan manusia dalam per­hitungan amalnya. Ada yang diperhi­tungkan secara ketat, ada yang diperhi­tungkan secara mudah. Serta ada yang masuk ke surga tanpa harus diperhitung­kan amalnya, dan mereka adalah orang-orang yang selalu bertaqarrub kepada Allah SWT. 

Ia akan menanyai siapa saja yang dikehendaki-Nya dari para nabi dalam menyampaikan risalah, menanyai siapa saja yang dikehendaki-Nya dari orang-orang kafir yang telah mendus­ta­kan para rasul, menanyai orang yang ber­buat bid‘ah tentang sunnah, dan me­nanyai kaum muslim tentang amal per­buatan mereka.

Juga beriman bahwa orang-orang ber­iman yang mengesakan Allah SWT akan dikeluarkan dari api neraka setelah dihukum, sehingga di dalam neraka tidak tersisa lagi orang yang mengesakan-Nya dengan berkat kemurahan Allah SWT. Di samping itu, beriman dengan sya­fa’at para nabi, lalu ulama, lalu para syahid, dan semua orang yang beriman, masing-masing sesuai dengan keduduk­an dan derajatnya di sisi Allah SWT. 

Adapun yang tersisa dari orang-orang beriman yang tidak ada orang yang memberikan syafa’at kepada me­reka, mereka dikeluarkan dari neraka dengan kemurahan Allah SWT sehingga tidak ada satu orang mukmin pun yang aba­di di neraka, bahkan orang yang di dalam hatinya hanya ada sebiji sawi keimanan akan dikeluarkan juga. 

Kemudian pengarang menjelaskan ke­yakinan yang lain, yaitu keyakinan mengenai para sahabat Nabi SAW, dengan mengatakan:

Juga meyakini keutamaan sahabat-sahabat Nabi dengan urutannya, dan bah­wa yang paling utama setelah Ra­sulullah SAW adalah Abu Bakar RA, kemudian Umar RA, Utsman RA, lalu Ali RA. Selain itu, hendaknya berbaik sang­ka terhadap semua sahabat dan mem­berikan pujian kepada mereka, se­ba­gaimana Allah SWT dan Rasul-Nya mem­berikan pujian kepada mereka.

Kesemuanya itu berdasarkan riwa­yat-riwayat hadits dan atsar-atsar. Ba­rang siapa meyakini semua itu, ia men­jadi bagian kelompok yang benar dan me­nepati sunnah, serta berseberangan dengan kelompok sesat dan bid‘ah. Kita memohon kepada Allah SWT agar diberi keyakinan yang sempurna dan keteguh­an di dalam agama, untuk kita semua dan seluruh kaum muslimin. Sesung­guh­nya Dia Paling Penyayang di antara yang penyayang.

AY
Al-Mursyid Al-Amin
Karya Al-Ghazali
Diasuh oleh: K.H. Saifuddin Amsir

Habib Ali Al-Jufri: Jadilah Pemilik Hati yang Hadir (Makna-makna Shalat)

Wahai para murid, pelajar, pendidik, perhatikanlah!! Badwi ini, dia tidak dapat membaca dan tidak pula dapat menulis, akan tetapi dia adalah seorang pemilik hati yang senantiasa hadir bersama Allah SWT. Itulah sebabnya, luapan perasaannya membuatnya larut dalam kenikmatan memuji Allah SWT sehingga lisannya bergerak untuk mengucapkan pujian kepada-Nya, bahkan hingga sepenuh langit dan bumi, bahkan melebihi keduanya. Ia tenggelam dalam pujian kepada Allah SWT.

Dunia yang Nisbi – Kalam Al Habib Abdullah bin Husain bin Thahir

“Perasaan senang, bahagia, tenteram, puas dan lapang dada ternyata tak timbul sebab keserasian suatu raihan manusia dengan keinginannya. Begitu sebaliknya, rasa sedih, masygul dan gundah gulana tak lahir karena kontradiksi harapan dengan kenyataan. Segala rasa itu adalah kesan maknawi yang dialirkan Sang Ilah ke hati hamba yang Ia kehendaki.”

Pentingnya Sebuah Wasilah (Perantara)

Al Allamah Al Musnid Habib Umar bin Hafidz ketika lawatannya ke Inggris menuturkan , ada seorang yang hidup di masa Qutb Rabbani Syeich Abdul Qadir Al Jaelani. Ketika orang itu meninggal dunia dan di kuburkan, orang-orang yang berada di sekitar pekuburan mendengar jeritan, lolongan orang itu dari dalam kubur.

Para sahabat (murid-murid) syeich Abdul Qadir Al Jaelani bercerita kepadanya, dan segera syeich Abdul Qadir Al-Jaelani menghampiri kubur tersebut. Masyarakat menyaksikan dan memohon kepada beliau agar memohon kepada Allah subhanallahu wata`ala agar hukumannya di angkat.

Kemudian Syeich Abdul Qadir Al Jaelani bertanya kepada para sahabat-sahabatnya:
“Apakah ia salah satu dari sahabatku (muridku)?”
Mereka menjawab: “Bukan wahai syeikh”……
Lalu beliau bertanya kembali :
“Pernahkah kalian melihatnya hadir pada salah satu majelisku?”
Mereka menjawab : “Orang itu tidak pernah menghadiri majelismu.”
Asy-Syeikh Abdul Qadir bertanya lagi :
“Pernahkah ia masuk ke salah satu masjid dengan tujuan untuk mendengarkan ceramahku, atau shalat di belakangku?”
Mereka menjawab : “Tidak pernah , ya syeikh..!!!!!”
Lalu Asy-Syeikh Abdul Qadir bertanya lagi :
“Pernahkah aku melihatnya?”
Mereka menjawab : “Tidak pernah, ya syeikh…!!!”
Lalu Asy Syeikh Abdul qadir bertanya lagi :
“Apakah ia pernah melihatku?”
Mereka menjawab : “Tidak ya syeikh….!!”

Lalu salah seorang dari mereka berkata: “namun, wahai syeikh, aku pernah melihatnya melintas di suatu jalan setelah engkau dan para sahabatmu baru saja selesai dari majelis, dan ia melihat jejak jalanmu” (di masa itu Asy Syeikh Abdul qadir Al Jaelani bila berjalan dengan rombongannya , dengan mengendarai kuda, hingga menimbulkan debu-debu yang mengepul di udara, orang akan segera tahu..wah..konvoi Asy Syeikh Abdul qadir Al Jaelani barusan lewat nih)
Lalu Asy-Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani menengadahkan tangannya kepada Allah subhanallahu wata`ala seraya berdo`a :

“Ya Allah, orang ini adalah orang yang pernah melihat debu jejak jalan kami selesai majelis, jika Engkau mencintai kami Ya Allah…., kami memohon kepada-Mu berkat kecintaan-Mu kepada kami untuk mengangkat hukuman serta siksaan pada hamba ini.”

Seketika itu juga, jeritan dari dalam kubur terhenti.  Subhanallah
Baru melihat debunya saja , seorang Wali Allah qutb rabbani As-syeikh Abdul qadir al Jaelani memberikan syafaat di alam kubur, bagaimana dengan para sahabatnya (muridnya) yang siang dan malam menghadiri majelis-majelis beliau, mengenal dan mencintainya.

Dari debu inilah Al qutb Rabbani Asy-Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani memohonkan , ampun, memberikan syafaat kepada orang tersebut. Bagaimana jika seandainya orang tersebut sulit di cari , apa alasan Asy syeikh Abdul Qadir Al Jaelani untuk memberikan syafaat kepadanya..Naudzubillah..
Oleh karena itu semasa hidupnya seorang muslim selayaknya mencintai para shalihin, para wali Allah. Sebab merekalah perantara antara kita dengan Allah, Para Wali Allah di cintai di langit dan di bumi sebagaimana Allah berfirman di dalam hadis qudsi riwayat Imam bukhari :

Jika Allah Ta`ala cinta kepada hamba-Nya, maka Allah akan berkata kepada malaikat Jibril yang merupakan pemimpin dari para malaikat di tempat tertinggi: “Wahai Jibril , Aku mencintai hamba itu, maka umumkanlah kepada semua penduduk langit untuk mencintai hamba tersebut.” Lalu malaikat Jibril as mencintai hamba tersebut karena Allah Ta`ala dan mengumumkannya, sehingga seluruh para malaikat ikut mencintainya.

Wallahu`alam
Allahumma shalli alaa ruuhi sayyidina muhammadin fil arwah, wa ‘ala Jasadihi filajsad, wa alaa Qabrihi filqubuur
oleh: Habib Quraisy Baharun
Sumber : www.majelisrasulullah.org

Ceramah Alhabib Umar bin Hafidz di Lapangan Monas 2014

Allah SWT berfirman tentang mereka orang orang kafir “Tidak akan engkau melihat mereka (orang orang kafir) & menjadikan pengikut mereka di tempat yang hina. Mereka mengganti firman Allah SWT, terhadap orang orang yang ingkar nikmat dari Allah & menggantinya dengan kekufuran dimanapun mereka berada dan kapanpun mereka hidup”.

Dan kalian semua beriman kepada nabi yang agung ini, percaya kepadanya, maka kalian tidak akan pernah mengkafirkan nikmat yang Allah berikan kepada kalian. Beriman & cinta kepada Rasulullah SAW adalah anugerah dari Allah & nikmat yang besar dari Allah ta’ala limpahkan pada kalian. Allah Tuhan pencipta semesta seluruh alam, segala puji bagi Allah yang telah mengkhususkan kita dengan nabi Muhammad SAW. Allah menggantikan segala kesesatan & kegelapan, kepada itulah ilmu & hikmah pada ke imanan dan kemudahan sebaik baiknya pengajaran. Mensucikan kita dari berbagai perbuatan yang hina dan kotoran nya, ke dzholiman, ke syirikan dan dosa dosa besar di selamatkan.
Beliau (nabi Muhammad SAW) adalah pondasi, markas dari segala perkara ini. Beliau di kenal sebagai yang pertama & terakhir, yang menggabungkan segala kebaikan di bawahnya bendera utusan utusannya Allah. Kelak akan di bangkitkan oleh Allah sebagaimna semua para Rasul, mereka semua berjalan di bawah nya bendera nya rasulullah SAW. Harapan kami semoga kelak kami dapat berjalan di bawah bendera sang Nabi, aminn. Turut mengaminkan para malaikat di langit & di bumi, maka bagaimana pendapat kalian dengan doa yang ikut di amini oleh para malaikat yang ada di bumi & di langit tersambung hingga ke Rasulullah pada malam ini. Wahai Allah yang mengumpulkan para rasul di bawah bendera Rasulullah SAW maka kumpulkanlah kami yang hadir di majelis ini bersama mereka wahai Allah, di bawah bendera Nabi Muhammad SAW, aminn.
Sungguh sangat mulia kedudukan tersebut, di situ Allah titipkan rahasia rahasia yang tidak dapat dituliskan dengan kertas, namun rahasia rahasia tersebut Allah pendamkan dihati/sanubari para wali wali besar, utusan Allah, kekasih kekasih Allah, pilihan Allah. Ya Allah berilah bagian yang besar makhrifat yang besar kepada Mu & Nabi Mu. Barang siapa yang mendapatkan makhrifat/kecintaan kepada Allah & Rasul nya, maka dia tidak akan mampu mencintai yang lain lebih dari Allah & Rasulnya, baginya Allah & Rasul lebih ia cintai dari siapapun. Pada saat itulah ia akan merasakan manis nya iman, kelezatan yang lebih agung tiada tara.
Kelezatan yang tidak dapat di bandingkan dengan pakaian, rumah, makanan, minuman, kendaraan, pernikahan. Kelezatan yang tidak akan didapati dipabrik pabrik atau di dalam peradaban yang mengaku lebih hebat dari pada hamba hamba yang beriman kepada Allah. Semua yang di dapat oleh orang orang dunia ini tidak akan sebanding setetespun dengan orang orang yang mendapatkan ke imanan tersebut dan mereka dikumpulkan di akherat kelak. Maka anak anak dunia mengharapkan untuk tidak pernah merasakan nikmat nya dunia jika dibandingkan dengan nikmat nya iman kpda Allah & Rasul Nya.
Hadir di majelis ini adalah sebuah kenikmatan, maka hargailah nikmat & kekuatan tersebut hingga kalian dapat hadir di majelis ini. Ingatlah sebuah hakikat di hati/sanubari seorang mukmin yang harus di imani.
“Bahwasanya tidak ada sebuah kebaikan yang mana setelah itu adalah api neraka, dan tidak ada sebuah kesusahan/kemelaratan melainkan setelah itu adalah surga”
sebab sesungguh nya kebaikan yang setelah nya api neraka itu adalah keburukan yang hanya dibungkus dengan kemasan yang baik. dan kesulitan yang setelah nya surga sesungguhnya itu hanya sementara dan ringan, setelahnya akan masuk kedalam surga yang besar nikmat nya.
Jutaan manusia pada saat ini sedang memandang pandangan yang harom yang ada di televisi, dilayar gadgetnya,layar telepon mereka. Mana yang lebih baik dari kehadiran kita di majelis ini? Ketahuilah bahwa segala kebaikan dunia & akherat semuanya berkumpul di dalam takwa kpda allah SWT. dan segala keburukan dunia & akherat berkumpul di dalam pelanggaran maksiat kepada Allah SWT.
Jangan sampai orang orang sombong yang memutuskan hubungan kita dengan Allah menipu kita.
Dan ketahuilah hari kiamat pasti datang tanpa ada keraguan didalamnya, tanpa di ragukan kedatanganya, tanpa ketahuan datangnya dan dihari itu adalah hakikat kebahagiaan dari mereka orang orang yang mendapatkan kebaikan dari Allah. Dan sabaliknya bagi orang orang yang mendapatkan kesialan bagi Allah. Barang siapa yang dijauhkan dari api neraka dan dikumpulkan kedalam surga ketahuilah dia adalah orang orang yang beruntung.. Tidak terhanyut pada dunia yang pernak pernik nya banyak menipu. Tidak sama penduduk penghuni neraka & surga sebab penduduk penghuni surga mereka adalah orang orang yang menang di sisi Allah. Maka demi kemulian AlQuran wahai Allah & kemulian Nabi Muhammad yang telah engkau turunkan Alquran atasnya, maka jadikanlah kami yang hadir & mendengar ini tergolong sebagai orang orang yang beruntung.. aminnn. Yang bersambung dengan kami, yang mencintai & membela kami, mereka yang masih berada di sulbi sulbi kami, yang akan lahir jadikan mereka semua sebagai orang orang yang beruntung kelak di hari kiamat.. aminn
Barang siapa yang taat kepada Allah & Rasulnya sebab takwa kepada Nya, maka ia akan bahagia di hari esok (hari kiamat). Ketahuilah ini adalah hakikat keberuntungan terbesar bagi kita, sebab kita berkumpul malam ini melainkan untuk meraih kejayaan kemenangan di sisi Allah. Kami tidak memintanya selain kepada pemiliknya (Allah SWT). Tak akan ada yang mampu kecuali Allah yang memberikanya, maka dari itu kami memintanya kepada Mu wahai Allah, yang maha kuasa yang dapat memberikan nya kepada kami. Jadikanlah kami semua sebagai orang orang yang berjaya & beruntung wahai Allah.. aminn
Yang hadir disini sebagian besar adalah anak anak muda yang telah meninggalkan kesibukan nya terhadap nafsu dunia, mereka meninggalkan permainan permainan yang biasa kaum muda lakukan, mereka lakukan semata mata hanya ingin dekat kepada mu wahai Allah. Sesungguh nya dalam hadis lewat Nabi Mu Muhammad SAW bahwasanya engkau “Merasa bangga terhadap para pemuda pemuda yang meninggalkan maksiat & mendekat kepada Mu”. Maka bahagiakan lah mereka wahai Allah, berkahilah mereka, dan bentangkanlah selalu kebaikan & keberkahan kepada majelis ini, hingga akhir masa muda mereka, hingga akhir hayat mereka tetap berada di dalam kebaikan Mu. Engkau merasa kagum wahai Allah, engkau cinta kepada pemuda pemuda yang menjauhi maksiat dan Rasul Mu pun mencintai mereka, dan itu adalah jumlah yang besar yang berkumpul dari umat Mu. Maka turunkanlah kami semua dalam samudra kecintaan kepada Mu & Rasul Mu, amin. Tidak ada yang lebih pantas kita cintai selain Allah SWT, dari kita pun tidak sepantas itu untuk di cintai, bukan kah dari kita di ciptakan dari Allah SWT? maka tidak ada yang lebih patut engkau cintai di langit & di bumi melainkan Allah & Rasulnya. Wahai Allah orang yang ingin engkau berikan kebaikan kepadanya kebahagiaan di dunia& akherat adalah yang engkau tanamkan kecintaan dalam hatinya kepada Mu & Rasul Mu. Maka tanamkanlah cinta ini pada hati kami ya Allah, melesat dan tertancap dengan kuat pada sanubari kami kecintaan terhadap Mu & Rasul Mu hingga kami mendapatkan kebahagiaan & keberuntungan dunia & akherat.
Dan sungguh dalam hidup kita tdak ada satupun yang lebih pantas di cintai lebih agung dari pada ini. Tidak ada yang lebih afdol di syukuri dr anugrah ini. Dan sungguh kalian tidak akan datang ketempat ini dan berkumpul di tempat ini, melaikan hati kalian lebih dulu menjawab panggilan Allah. Dan telah sampai kepada kalian taufik & hidayah kepada kalian bimbingan dari Allah yang maha pemberi anugrah. Sehingga kalian berkumpul lalu kalian meminta kepada siapa? memanggil siapa? menuju kepada siapa? mencari siapa? kemuliaan untuk kalian jika tujuan utama kalian adalahh
Allahhhh..
Sungguh kebahagiaan jika yang kalian tuju adalah Allahhh… Lihatlah pada saat ini banyak jutaan manusia yang ada di benak mereka adalah makanan, minuman, rumah, kendaraan, uang mereka, tapi lihat apa yang di benak kalian hanya Allah. Lihat lah perbedaan tersebut & renungkan dalam hati kalian bandingkan mnaa yang lebih baik untuk kalian. Ya Allah pandanglah hati & sanubari sanubari kami, bersihkanlah hati mereka sehingga di hati mereka tidak ada keinginan selain Allah, tidak ada yang dituju selain Engkau. Semoga Allah ta’ala mengumpulkan kita kelak di hari kiamat. Mohonlah kepada Allah kecintaan kepadanya maka kita akan meraih keteladanan Nabi Muhammad SAW. Apabila tujuan kita sungguh sungguh Nabi Muhammad SAW maka sungguh nanti kita akan berkumpul di telaga nya sang Nabi & meminum nya. Telaga yang lebarnya satu bulan perjalanan, airnya lebih manis dari pada madu, lebih putih dari pada susu dan lebih wangi dari minyak kasturi, di sana terdapat dua pancuran yang berasal dari Alkautsar.
Barang siapa yang meminum nya seteguk saja maka ia tidak akan merasa kehausan selama lamanya, setiap Nabi akan berdiri di telaganya & akan saling membanggakan siapakah umat nya yang paling banyak yang masuk ke dalam telaga itu dan Rasulullah SAW berdiri di telaganya menanti umat beliau, serta menantu sepupu beliau, sayidina Ali, Fatimah, Zaenab, Umu Kultsum, Roqayah, Istri beliau Sayyidatuna Khadijah yang menanti para kaum wanita untuk meminum, menyambut & menyapa nya. Sungguh ibadah yang kita lakukan selama hidup di ganjar dengan meminum air dari tangan nya Rasulullah, melihat wajah nya, di sambut oleh nya, sungguh itu cukup anugerah yang besar dari Allah. Semoga saya & kalian di kumpulkan di anugerah yang besar itu di hari kiamat kelak, aminn.
Ketahuilah dari umat Nabi Muhammad yang melenceng dari ajarannya, kelak ia akan di usir oleh para malaikat. Lalu Rasulullah bertanya kepada malaikat, “Kenapa kalian usir ummat ku?” malaikat menjawab “Mereka bukan ummat mu & bagian dari mu, sebab dulu di dunia mereka melenceng dari Allah & Rasulullah” maka sang Nabi berkata “Mereka adalah orang orang yang jauh dari ku, yang telah keluar dari ajaran Allah & Rasul Nya, akan aku palingkan juga wajah mereka dari telaga ku” padahal mereka sudah melihatnya dan ingin meminum nya. Maka kasihanilah dari kalian, umat sesama kalian, persiapkanlah diri kalian kelak datang ke telaga sang Nabi. Kasihanilah mahluk mahluk Allah maka Allah akan mengasihani kalian. Kasihanilah oleh kalian orang orang yang tertipu oleh dunia, hingga mereka menunda nunda sholat. Mereka rela durhaka kepada orang tua mereka, mereka bergaul di lingkungan yang jahat, karena itu mereka mencari cari hal yang hina, maka merekalah yang patut di tangisi & di kasihani keadaan nya.
Di antara bentuk syukur kita berharap agar dapat pengampunan adalah dengan mendekatkan mereka kepada majelis ini, berjuanglah untuk menarik mereka. Sungguh Nabi Muhammad saw berkata
“Satu orang yang mendapat hidayah lewat tangan mu, itu lebih baik dari dunia dan isinya”.
Maka marilah kita kenang kembali kepada kisah tiga orang yang ikut perang khobar bersama Rasulullah, yang dua di antara mereka mendapat kemenangan di sisi Allah, mereka ikhlas, tulus dalam cintanya kepada Allah, adapun yang satu lagi tertipu dengan dunia. Orang yang pertama, ia mati dengan terkena anak panah di tenggorokan seperti yang dulu ia pernah katakan di hadapan Rasulullah ketika dibagikan harta rampasan perang, orang tersebut berkata “Yaa Rasulullah bukan untuk ini (harta rampasan perang) aku mengikuti mu, tapi aku ingin terbunuh dengan panah, wafat lalu masuk surga” maka Rasulullah berkata “Jika engkau bersungguh sungguh dalam ucapan mu maka Allah pun bersungguh sungguh dengan engkau”. Maka wafat lah ia dengan keadaan yang dulu ia katakan kepada Rasulullah.
Kemudian orang yang kedua ia mati terkena anak panah orang yahudi yang membunuh nya. Tapi ketika ia wafat, Rasulullah melihat ia terbakar api lewat sorban pakaian yang di pakainya. Lalu para sahabat bertanya “Itu artinya apa Ya Rasulullah, bukan kah ia mati sahid?” Rasululah pun menjawab, “Api yang membakar nya adalah berasal dari harta ghonimah yang ia ambil tanpa izin, membagi bagi kan tanpa izin. Ia telah tertipu oleh dunia, semua harta ghonimah yang ia ambil masih utuh di dalam baju nya dan membakar tubuh nya”.
Adapun orang yang ketiga terkenal dengan nama Dulbijadain yaitu pemilik dua potong pakain yang lusuh, ia rela melepaskan seluruh hartanya hanya untuk semata mata ingin bertemu Rasulullah saw. Ia hanya membawa pakaian yang ada pada tubuh nya yang sudah lusuh & usang. Maka para sahabat nya memanggil dengan Dulbijadain, cintanya pada Allah & Rasul tulus, ikhlas, ia wafat dalam perjalanan pulang setelah perang usai, ia sakit di perjalanan dan wafat, yang menggali kuburan nya adalah sayyidina Abu Bakar & Umar bin Khattab, Rasulullah pun ikut turun ke kuburan nya untuk merapikan nya. Rasulullah mensholat kan dia, Rasulullah sendri yang menaruh jenazah ke dalam liang lahat dengan tangan nya Rasulullah, dan Rasulullah berdo’a “Yaa Allah ridhoilah dia, sebab malam ini aku ridho kepada dia” lalu bagaimana dengan kita? Ya Rasulullah maka ridhoilah kami sehingga Allah pun ridho terhadap kami.
Ridhoilah kami Ya Rasulullah agar Allah ridho terhadap kami. Ya Allah ridho Ya Allah ridho. Ya Allah ridho Ya Allah ridho, dari segala kesalahan masa lalu kami, kekurangan kami, pengampunan Mu, taubat yang tulus, yang ikhlas, wahai pemberi taubat, pandang lah kami wahai Allah, rahmat yang luas untuk kami, kami tak membutuhkan kasih sayang selain Mu, kasihanilah kami, sayangi kami Ya Allah.. Jangan Engkau berikan keburukan setelah ini Ya Allah, berilah kami khusnul khotimah. Setiap orang yang telah wafat dan dia pernah sekali menghadiri majelis ini, masukan ia kedalam surga, apabila ia dalam ketakutan bahagiakanlah dia, dalam keadaan terazab, angkat azab dan siksa Mu Ya Allah, jika dalam kenikmatan, tambah nikmat nya Ya Allah. Khususkan hamba Mu almarhum Sayyid Munzir bin Fuad berilah kebahagiaan yang teragung, kebaikan yang teragung, kumpulkan kami kelak bersama nya Ya Allah. Allahuma sholi ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad, walhamdulillahi robbil alamin.
~ Al’alamah Al’arif billah Habibana Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz ~ @monumen nasional, November 2014
Dikutip dari http://www.majelisrasulullah.org

Jadikan Diri Kita Lebih Baik Dalam Majelis

Barang siapa yang hadir di majelis dia menyimak dengan benar, mendengar dengan telinga & hatinya, lalu menjalankan apa yang dia simak & dengar dengan sebaik baiknya. Tujuan utama nasihat dari guru guru kita Alhabib Umar bin Hafidz bukan hanya sekedar untuk di dengar lalu di lupakan, tapi untuk diteladani, agar kita ikuti, dijadikan sebagai panutan & pedoman dalam hidup kita.